Skip to main content

Posts

Saru Ahhh

Mari kita saru. Ramekan saru dengan kesaruan yang jangan dibuat jujur. Lepaskan saja dari mulutmu ucapkan dengan lafal yang jelas dan nikmati kebebasan itu. Ini bukan saru untuk mengeruk dosa dan menerapkan pelanggaran tabuisme yang acapkali dijejalkan oleh pendahulu kita (bus kota, becak dan badak terbang) . Melainkan saru ini dalam konteks yang lain. Konteks untuk mencapai satu kesapakatan, paseduluran itu indah. Dan saru salah satu medianya. Tapi bentar dulu. Bukan berarti kalo tidak saru atau masih menghormati kewajaran tutur kata. Terus susah untuk menjalin paseduluran. Tidak ini bukan membuat sekat saru. Terus meniadakan kawan yang memang tidak pingin saru. Bahkan akan selalu dihormati kawan-kawan yang punya prinsip seperti itu. Namun jangan ada ceramah diantara saru dan tidak saru. Itu yang tidak seru.

Ini Repost Lho Sayang

Sayang, bulan ini terpaksa kita harus makan sepiring berdua. Tapi usulmu, piringnya dicuil saja, biar gak sumpek. Sayang, bulan kemarin tagihan listrik tak terhingga petugas PDAM selalu setia dengan janjinya menyumbat air yang masuk ke ledeng2 rumah kita. Tapi saranmu, nggantol tetangga saja, terus racun petugas PDAMnya. Sayang, dua hari yang lalu ada yang bilang aku kere. Tapi ujarmu, hunus golokmu bacok matane! Dan sayang, tahun kemarin sampe tahun ini yang akan habis hari harinya, tetap saja cintaku tak kunjung habis. Ngiritmen! Jawabmu! Sayang kok kamu bobokya miring sih. Sembari mlengos kau jawab, sori mas mau kentut neh. Buset! Sayang, sejak kapan kamu bergincu tebal seperti itu? Singkat kau jawab, Sak Karepku! Sayang, kata Cak Narto aku gempal dan bergelimang lemak. Kamu pun ngekek. Sayang, kapan kita ke kebun binatang lagi, seperti dulu waktu kita pertama kali berjumpa. Kamu diam dan bersiul. Sayang, masih kau simpan surat cintaku yang aku tulis dengan tinta emas. Tinta e...