Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpenionase

Campur Aduk

"Kopi hitam, gelas kecil, gulanya setengah sendok makan" "Mas-nya darimana mau kemana?" "Dari Jogja main ke sini mbak" "Sengaja atau cuman mampir mas?" "Sengaja, punya korek?" "Wah jadi kangen Jogja saya mas.." "Mbak e asli Jogja?" "Saya asli sini mas, cuma saya pernah lama di Jogja, kerja di pabrik tekstil, di Sedayu mas" "Oooo.." "...." "...." "Sebentar ya mas.." "Monggo mbak"

Memetik

Tubuhku terpental seratus langkah dari titik temu itu. Jika ada pilihan lain, mungkin ku pilih dicincang Gueletin atau sejanta holocus sekalian. Daripada serpihanku terpelanting kesana kemari. Terkoyak tak sempat mengaduh. Bisakah aku terkulai dengan cara yang terindah? Ini yang biasa disebut dengan misteri, semuanya begitu berkabut dan tak jelas. Satu jam berlalu, Rani tak juga diam dari tangisnya. Sepatu yang dijemur dihalaman depan, raib begitu saja. Kado ulang tahun papanya itu Rani terima ketika menjuarai turnamen bola pingpong tingkat kelurahan di kampungnya. Bahagia bukan kepalang ketika bungkus kado itu dibuka dan berisi sepatu yang hampir setahun ini Rani berharap memilikinya. Memakainya ketika bersekolah, memamerkannya ketika bersama kawan dan sobat dan memandanginya sebagai pengantar tidur. Namun halaman itu tak ada lagi sepatu kado papa. Hanya taman dengan pemandangan yang hampa tanpa sepatu kesayangan.

Piknik Ke Bulan

Siang. Panas. Kota. Macet. Trotoar. Perut buncit. Muka kumal. Tubuh dekil. Dan bau badan yang kacau. Bertelanjang kaki melawan panasnya aspal. Diangkat jempol kakinya. Panas katanya. Sebatang rokok terselip ditelinga. Dihunus dan diciumi. Asap mengepul, berkabut asap, matanya yang merah diusap. Pedih katanya. Tak lepas menatap langit. Bocah itu menikmati kondisinya yang sekarang.

Kunang-kunang

Lututnya terkelupas. Beradu dengan pelataran berkerikil. Darah pun menetes. Gadis kecil itu sesenggukan. Menahan rasa sakit. Ini sudah larut malam, tak seharusnya seorang gadis kecil berlarian, bermain di halaman rumah, sendiri. Tapi ini tentang usaha tanpa ampun. Tak kan berhenti sebelum kunang-kunang itu dalam genggamannya. Tidak menghiraukan teriakkan ibunya. Untuk segera masuk ke dalam rumah, cuci kaki, ganti baju dan pergi tidur.

Sri

Berkali-kali aku teriak dari dalam bilik kecil ini. Perempuan bernama Sri Rahayu tak kunjung nongol. Memang aku terlalu capek, mungkin. Dan kemungkinan memang aku terlalu sombong, membiarkan pantat melekat di kursi ini. Seharusnya aku bangkit dan memanggil dengan nada santun. Namun tidak itu tidak aku lakukan. Biadabnya diriku ini. SRI RAHAYU!!! Teriakku. Perempuan itu muncul. Sekilas bayangan tubuhnya terpantul di kaca monitor. Tak ku hiraukan kehadirannya, perempuan itu aku suruh untuk mempersiapkan diri untuk diambil gambarnya.

Tiga

Bulan bunuh diri dibalik teralis awan. Malam tak urung terlelap. Kian mempesona bersenggama dengan desir angin barat. Mahkluk penghuni malam tergopoh-gopoh berlari, ketika derap kaki membuyarkan kasak-kusuk mereka tentang gelap dan kedahsyatan-kedahsyatannya. Rintik hujan tak menghalangi derap langkah, tergesa-gesa menembus semak belukar dan pekatnya malam. Menyibak kebun dan pematang sawah. Menapaki jalan setapak. Dan jembatan kecil penghubung dua kebun ketela. Berpayung daun pisang dan langkah dibimbing oleh cahaya senter kecil.

Oyi

Ada satu kisah tentang mimpi seorang Oyi, gadis remaja paras sejuk. Hati teduh. Tingkah meluluhkan jengah. Semua bahagia ciptaan bumi dan taman2 diatas langit Oyi dapat. Dari menikmati semangkuk es cendol sampai merindu runtutan kata untuk Tuhannya, gampang Oyi dapatkan. Namun ada satu kekurangan Oyi. Oyi lumpuh dipendengarannya, tuli. Suatu saat ketika Oyi bercanda dengan cicak pohon ditaman yang biasa menggumulinya dengan canda. Tiba-tiba seorang lelaki muda berteriak lantang kepada Oyi. "Haruskah seribu pasukan lebah ku kerahkan untuk membuatmu lenyap dari taman ini!!! Ini peraduanku! Ini ladang lamunku, tempatku memilin mata sekali, untuk sepanjang hari yang melelahkan ini!Diamlah selagi kamu bisa! Atau seruling ini menghardik keras dirimu!". Oyi terdiam. Sembari memungut boneka kertasnya oyi melangkah pergi. "Dasar orang gila..." keluh Oyi. "Apa kamu bilang!"